Diposting oleh
daniel
on Senin, 10 Juni 2013
/
Comments: (0)
Perkembangan teknologi perbankan elektronik
Saat ini perkembangan teknologi sudah semakin canggih, setiap orang dapat dengan mudah dan cepat mengakses teknologi.Khususna di dunia perbankkan dengan segala fasilitas yang disediakan sudah sangat banyak bagi perusahaan bank, pelayanan ini untuk memberi kenyamanan bagi nasabah.
Kegunaan komputer di bidang perbankan untuk menghasilkan informasi bagi pihak manajemen bank sendiri dan juga untuk meningkatkan pelayanan kepada pihak nasabah bank Saat ini dengan dikenalnya E-Commerce, maka pelayanan transaksi secara online dapat diterapkan dengan disediakannya ATM kemudian dengan penggunaan internet memudahkan perbankan dalam melakukan pelayanan kepada nasabahnya melalui INTERNET BANKING dan SMS BANKING. Pesatnya perkembangan teknologi itu telah membentuk masyarakat informasi internasional,termasuk di Indonesia. Sehingga satu sama lain menjadikan belahan dunia ini menjadi sempit dan berjarak pendek Berbisnis pun begitu mudahnya,seperti membalikkan telapak tangan.
Jenis-jenis E-Banking
Automated teller machine (ATM).
Terminal elektronik yang idsediakan lembaga keuangan atau perusahaan lainnya yang membolehkan nasabah untuk melakukan penarikan tunai dari rekening simpanannya di bank, melakukan setoran, cek saldo, atau pemindahan dana.
Computer banking.
Layanan bank yang bisa diakses oleh nasabah melalui koneksi internet ke pusat pusat data bank, untuk melakukan beberapa layanan perbankan, menerima dan membayar tagihan, dan lain-lain.
Debit (or check) card.
Kartu yang digunakan pada ATM atau terminal point-of-sale (POS) yang memungkinkan pelanggan memperoleh dana yang langsung didebet (diambil) dari rekening banknya.
Direct deposit.
Salah satu bentuk pembayaran yang dilakukan oleh organisasi (misalnya pemberi kerja atau instansi pemerintah) yang membayar sejumlah dana (misalnya gaji atau pensiun) melalui transfer elektronik. Dana ditransfer langsung ke setiap rekening nasabah.
Direct payment (also electronic bill payment).
Salah satu bentuk pembayaran yang mengizinkan nasabah untuk membayar tagihan melalui transfer dana elektronik. Dana tersebut secara elektronik ditransfer dari rekening nasabah ke rekening kreditor. Direct payment berbeda dari preauthorized debit dalam hal ini, nasabah harus menginisiasi setiap transaksi direct payment.
Electronic bill presentment and payment (EBPP).
Bentuk pembayaran tagihan yang disampaikan atau diinformasikan ke nasabah atau pelanggan secara online, misalnya melalui email atau catatan dalam rekening bank.Setelah penyampaian tagihan tersebut, pelanggan boleh membayar taguhan tersebut secara online juga jika berkenan. Pembayaran tersebut secara elektronik akan mengurangi saldo simpanan pelanggan tersebut.
Electronic check conversion.
Proses konversi informasi yang tertuang dalam cek (number rekening, jumlah transaksi, dll) ke dalam format elektronik agar bisa dilakukan pemindahan dana elektronik.
Electronic fund transfer (EFT).
Perpindahan “uang” atau “pinjaman” dari satu rekening ke rekening lainnya melalui media elektronik..
Payroll card.
Salah satu tipe “stored-value card” yang diterbitkan pemberi kerja sebagai pengganti cek yang memungkinkan pegawainya mengakses pembayaraannya pada terminal ATM atau Point of Sales.Pemberi kerja menambahkan nilai pembayaran pegawai ke kartu tersebut secara elektronik.
Preauthorized debit (or automatic bill payment).
Bentuk pembuayaran yang mengizinkan nasabah untuk mengotorisasi pembayaran rutin otomatis yang diambil dari rekening banknya pada tanggal-tangal tertentu dan biasanya dengan jumlah pembayaran tertentu (misalnya pembayaran listrik, tagihan telpon, dll).Dana secara elektronik ditransfer dari rekening pelanggan ke rekening kreditor (misalnya PLN atau PT Telkom).
Prepaid card.
Salah satu tipe Stored-value card yang menyimpan nilai moneter di dalamnya dan sebelumnya pelanggan sudah membayar nilai tersebut ke penerbit kartu.
Smart card.
Salah satu tipe stored-value card yang didalamnya tertanam satu atau lebih chips atau microprocessors sehingga bisa menyimpan data, melakukan perhitungan, atau melakukan proses untuk tujuan khusus (misalnya validasi PIN, otorisasi pembelian, verifikasi saldo rekening, dan menyimpan data pribadi). Kartu ini bisa digunakan pada system terbuka (misalnya untuk pembayaran transportasi public) atau system tertutup (misalnya MasterCard atau Visa networks).
Stored-value card.
Kartu yang di dalamnya tersimpan sejumlah nilai moneter, melalui pembayaran sebelumnya oleh pelanggan atau melalui simpanan yang diberikan oleh pemberi kerja atau perusahaan lain. Untuk single-purpose stored value card, penerbit (issuer) dan penerima (acceptor) kartu adalah perusahaan yang sama dan dana pada kartu tersebut menunjukkan pembayaran di muka untuk penggunaan barang dan jasa tertentu (misalnya kartu telpon). Limited-purpose card secara umum digunakan secara terbatas pada terminal POS yang teridentifikasi sebelumnya di lokasi-lokasi tertentu (misalnya vending machines di sekolah-sekolah). Sedangkan multi-purpose card dapat digunakan pada beberapa penyedia jasa dengan kisaran yang lebih luas, misalnya kartu dengan logo MasterCard, Visa, atau logo lainnya dalam jaringan antar bank.
Diposting oleh
daniel
on Minggu, 03 Maret 2013
/
Comments: (0)
NAMA KELOMPOK3D21 :
Daniel Efraldo
Ahmad zakki M
DOSEN : ROOSHWAN BUDHI UTOMO
MATA KULIAH : SISTEM INFORMASI AKUNTASI
DFD adalah representasi
grafis dari sebuah sistem. Sebuah DFD menggambarkan komponen sistemnya arus
data yang mengalir di antara komponen; dan sumbernya, tujuan, penyimpanan data.
Ilustrasi menunjukan untuk simpul yang di gunakan pada DFD.
Diagram Kontek
Gambar 3.2 contoh DFD
pertama konteks diagram.
Konteks diagram adalah
diagram tingkat atas dari suatu sistem informasi yang menggambarkan data
mengalir masuk dan keluar dari sistem dan masuk dan keluar dari entitas
eksternal, Sedangkan entitas dalam diagram konteks menunjukan lingkungan yang
relevan. Lingkunga yang relevan adalah bagian dari lingkungan yang mempengaruhi
sistem of interes.
Fisik data flow diagram
Sebuah diagam aliran
data fisik adalah gambaran dari sistem yang menunjukkan entitas sistem'internal dan eksternal, dan
arus data masuk dan keluar dari entitas. Sebuah DFD fisik
tidak memberi tahu kami apa yang sedang dicapai. Misalnya, pada
gambar 3.3, kita melihat bahwa " petugaspenjualan " menerima uang
tunai dari "Pelanggan" dan mengirim uang, ke "Kasir".
Perhatikan DFD fisik yang diberi
label untuk menunjukkan bagaimana data yang ditransmisikan. Sebagai contoh, "petugas penjualan" mengirimkan "66W bentuk"
untuk "Pembukuan") dan label filemenunjukkan bagaimana ( "Blue penjualan
buku") sistem menyimpan catatan penjualan. Akhirnya,sedangkan kotak entitas pada diagram
konteks mendefinisikan data flow diagram.
Entitas eksternal di
lingkungan yang relevan, DFD fisik mendefinisikan entitas internal.
Logical Data Flow Diagram
Sebuah diagram aliran data
logis adalah representasi bergambar dari sistem yang menunjukkan proses sistem
dan aliran data masuk dan keluar dari proses. Kami menggunakan DFD logis untuk
mendokumentasikan sistem informasi karena kita dapat mewakili sifat logis dari
sistem apa tugas sistem yang dilakukan tanpa harus menentukan bagaimana, di
mana, atau oleh siapa tugas yang dicapai.
Keuntungan dari DFD logis (versus DFD fisik) adalah bahwa kita dapat berkonsentrasi pada fungsi sistem.
Keuntungan dari DFD logis (versus DFD fisik) adalah bahwa kita dapat berkonsentrasi pada fungsi sistem.
Menggambar Diagram Konteks
Sejak diagram konteks hanya
terdiri dari satu lingkaran, kita dapat mulai diagram konteks kita dengan
menggambar satu lingkaran di tengah kertas .
Pedoman 1:
Termasuk dalam konteks sistem (bubble) setiap entitas yang melakukan kegiatan informasi satu atau lebih pengolahan
Termasuk dalam konteks sistem (bubble) setiap entitas yang melakukan kegiatan informasi satu atau lebih pengolahan
Pedoman2:
Sertakan hanya rutinitas pemrosesan normal, tidak terkecuali rutinitas atau rutinitas kesalahan. Pada diagram konteks, DFD fisik, dan tingkat 0 DFD logis.
Sertakan hanya rutinitas pemrosesan normal, tidak terkecuali rutinitas atau rutinitas kesalahan. Pada diagram konteks, DFD fisik, dan tingkat 0 DFD logis.
Pedoman 3
Entitas dengan cara alasan
penerimaan kas sistem-pelanggan, bank, dan buku besar
Pedoman 4
Ketika entitas beroperasi
multi-identik, menggambarkan hanya satu untuk mewakili semua.
Menggambar diagram alir data
fisik saat ini
Pedoman 5
Untuk kejelasan, menggambar
aliran data untuk setiap aliran masuk dan keluar dari file.
Pedoman 6
Jika file secara logis
diperlukan (yaitu, karena adanya keterlambatan antara proses), termasuk file
dalam diagram, apakah atau tidak disebutkan dalam cerita.
Pedoman 7
Kegiatan kelompok jika
mereka terjadi di istana yang sama dan pada waktu yang sama.
Pedoman 8
Kegiatan kelompok jika
mereka terjadi pada saat yang sama tapi di tempat yang berbeda.
Pedoman 9
Kegiatan kelompok yang
tampaknya logis terkait, untuk menghilangkan satu-aktivitas gelembung sedapat
mungkin.
Pedoman 10
Untuk membuat DFD dibaca,
gunakan antara lima dan tujuh gelembung.
Setelah mulai
dekomposisi kami di atas dengan pemandangan seluruh sistem (dan tujuan sistem),
dan mengakui keterkaitan (yaitu, interface) antara bagian sistem, kita dapat
melanjutkan secara teratur untuk slove masalah kita atau merancang sistem baru.
menggunakan DFD dalam dua cara utama kita dapat menarik mereka untuk
mendokumentasikan sistem yang ada, atau kita dapat membuat mereka dari awal
ketika mengembangkan sistem baru. DFD (dan diagram alur) akan memiliki
penampilan yang lebih profesional jika Anda menggunakan template flowcharting.
Sebuah simbol (seperti kotak lingkaran dan persegi panjang) telah dipotong.
Dengan menyediakan sarana untuk melacak simbol charting, template mempercepat
gambar dan mempromosikan teknik charting yang baik.
Tabel entitas dan kegiatan
Dalam jangka panjang,
daftar ini akan mengarah pada persiapan lebih cepat dan lebih akurat dari DFD
dan flowchart sistem karena menjelaskan informasi yang terdapat dalam
narasi dan membantu kita untuk mendokumentasikan sistem dengan benar.jika kita
menerapkan pedoman 8 (yaitu, waktu yang sama tetapi tempat yang berbeda) untuk
pengelompokan sebelumnya, kita bisa menggabungkan kegiatan 8 dan 13, 14 dan 17,
16 dan 11, dan 9, 18 dan 19 solusi ini juga baik-baik saja dan merupakan
sedikit lebih baik daripada solusi pertama kami karena kami sekarang memiliki
lima gelembung dan kami hanya memiliki satu gelembung aktivitas tunggal.
jika kita menerapkan pedoman
9 (yaitu, kegiatan logis terkait), kita dapat menggabungkan kegiatan 1 3 4
althrought ini lulusan kita dengan hanya empat gelembung solusi ini unggul dua
yang pertama karena kita tidak memiliki gelembung aktivitas tunggal.
Singkatnya, kelompok kami
adalah
Kelompok 1: kegiatan 2,3,4
Kelompok 2: kegiatan
8,13,14,17
Kelompok 3: kegiatan 16,11
Kelompok 4: kegiatan 18,19,9
Untuk menggambar DFD logis,
Anda harus mulai dengan cara yang sama yang Anda mulai menggambar DFD fisik
saat ini. menggambar entitas eksternal dekat tepi selembar kertas. menggambar
dan label mengalir ke dan dari enties eksternal, sementara meninggalkan pusat
halaman kosong untuk menerima sisa diagram. karena ini adalah DFD logis, data
yang mengalir ke dan dari entitas harus memiliki deskripsi logis (misalnya,
deskripsi digunakan pada diagram konteks). bandingkan diagram Anda untuk solusi
di figuare 3,9 menyelesaikan segala perbedaan diagram Anda akan terlihat
seperti itu di figuare 3,9 jika Anda menggunakan pengelompokan yang kita
dijelaskan. pengelompokan lain yang mungkin dalam pedoman. Setiap kelompok yang
berbeda harus mengarah pada DFD logis berbeda.
Ringkasan menggambar diagram
alir data
dalam bagian ini, kami
merangkum apa yang telah kita pelajari tentang menggambar DFD, dan kami
menyajikan petunjuk untuk membantu Anda menggambar diagram ini akhirnya, kami
memberikan beberapa pedoman baru untuk menangani beberapa kasus khusus yang
tidak muncul ketika kita menarik DFD lintas.
NAMA KELOMPOK 3DB21 :
DOSEN : ROOSHWAN BUDHI
UTOMO
MATA KULIAH : SISTEM
INFORMASI AKUNTASI
Data Flow Diagram, flowchart dan data dictionary, Untuk sebuah sistem kami membutuhkan gambar ketimbang sebuah narasi deskripsi. Untuk melihat dan menganalisa semua input dan output sebagai contoh, dengan sistem flowchart atau bisa menganalisa arus lembar kerja melalui operasi, manajemen dan sistem informasi, dan kita bisa mengerti siapa yang menerima output dan dimana mereka menemukannya, menggunakan sistem informasi dokumen akan mengerti bahwa DFD dan flowchart lebih efisien (dan efektif) dalam mengguunakan dokumentasi untuk dimengerti dan meningkatkan sebuah sistem,
Data Flow Diagram, flowchart dan data dictionary, Untuk sebuah sistem kami membutuhkan gambar ketimbang sebuah narasi deskripsi. Untuk melihat dan menganalisa semua input dan output sebagai contoh, dengan sistem flowchart atau bisa menganalisa arus lembar kerja melalui operasi, manajemen dan sistem informasi, dan kita bisa mengerti siapa yang menerima output dan dimana mereka menemukannya, menggunakan sistem informasi dokumen akan mengerti bahwa DFD dan flowchart lebih efisien (dan efektif) dalam mengguunakan dokumentasi untuk dimengerti dan meningkatkan sebuah sistem,
DFD adalah representasi grafis dari sebuah sistem. Sebuah
DFD menggambarkan komponen sistemnya arus data yang mengalir di antara
komponen; dan sumbernya, tujuan, penyimpanan data. Ilustrasi menunjukan untuk
simpul yang di gunakan pada DFD, pelajari symbol ini dan pengertiannya,
perhatikan bahwa gelembung atau bubble dapat berupa sebuah entitas pada DFD
fisik atau sebuah proses pada DFD logika.
Diagram Kontek
Gambar 3.2 contoh DFD pertama konteks diagram.
Konteks diagram adalah diagram tingkat atas dari suatu
sistem informasi yang menggambarkan data mengalir masuk dan keluar dari sistem
dan masuk dan keluar dari entitas eksternal, Sedangkan entitas dalam diagram
konteks menunjukan lingkungan yang relevan. Lingkunga yang relevan adalah
bagian dari lingkungan yang mempengaruhi sistem of interes.
Fisik data flow diagram
Sebuah diagam aliran data fisik adalah gambaran dari
sistem yang menunjukkan entitas sistem 'internal dan eksternal, dan arus data
masuk dan keluar dari entitas.Sebuah DFD fisik tidak memberi tahu kami apa yang
sedang dicapai. Misalnya, pada gambar 3.3, kita melihat bahwa " petugas penjualan
" menerima uang tunai dari "Pelanggan" dan mengirim uang, ke
"Kasir".
Perhatikan DFD fisik yang diberi label untuk menunjukkan
bagaimana data yang ditransmisikan. Sebagai contoh, "petugas penjualan"
mengirimkan "66W bentuk" untuk "Pembukuan") dan label file
menunjukkan bagaimana ( "Blue penjualan buku") sistem menyimpan
catatan penjualan. Akhirnya, sedangkan kotak entitas pada diagram konteks
mendefinisikan data flow diagram.
Entitas eksternal di lingkungan yang relevan, DFD fisik
mendefinisikan entitas internal.
Logical Data Flow Diagram
Sebuah diagram aliran data logis adalah representasi bergambar
dari sistem yang menunjukkan proses sistem dan aliran data masuk dan keluar
dari proses. Kami menggunakan DFD logis untuk mendokumentasikan sistem
informasi karena kita dapat mewakili sifat logis dari sistem apa tugas sistem
yang dilakukan tanpa harus menentukan bagaimana, di mana, atau oleh siapa tugas
yang dicapai.
Keuntungan dari DFD logis (versus DFD fisik) adalah bahwa kita dapat berkonsentrasi pada fungsi sistem.
Keuntungan dari DFD logis (versus DFD fisik) adalah bahwa kita dapat berkonsentrasi pada fungsi sistem.
Menggambar Diagram Konteks
Untuk menggambar diagram konteks. sejak diagram konteks
hanya terdiri dari satu lingkaran, kita dapat mulai diagram konteks kita dengan
menggambar satu lingkaran di tengah kertas . selanjutnya, kita harus menarik
kotak entitas. untuk melakukan hal ini, kita harus memutuskan mana dari entitas
Pedoman 1:
Termasuk dalam konteks sistem (bubble) setiap entitas yang melakukan kegiatan informasi satu atau lebih pengolahan
Termasuk dalam konteks sistem (bubble) setiap entitas yang melakukan kegiatan informasi satu atau lebih pengolahan
Pedoman2:
Sertakan hanya rutinitas pemrosesan normal, tidak terkecuali rutinitas atau rutinitas kesalahan. Pada diagram konteks, DFD fisik, dan tingkat 0 DFD logis.
Sertakan hanya rutinitas pemrosesan normal, tidak terkecuali rutinitas atau rutinitas kesalahan. Pada diagram konteks, DFD fisik, dan tingkat 0 DFD logis.
Pedoman 3
Entitas dengan cara alasan penerimaan kas sistem-pelanggan,
bank, dan buku besar
Pedoman 4
Ketika entitas beroperasi multi-identik, menggambarkan hanya
satu untuk mewakili semua.
Menggambar diagram alir data fisik saat ini
Pedoman 5
Untuk kejelasan, menggambar aliran data untuk setiap aliran
masuk dan keluar dari file.
Pedoman 6
Jika file secara logis diperlukan (yaitu, karena adanya
keterlambatan antara proses), termasuk file dalam diagram, apakah atau tidak
disebutkan dalam cerita.
Pedoman 7
Kegiatan kelompok jika mereka terjadi di istana yang sama
dan pada waktu yang sama.
Pedoman 8
Kegiatan kelompok jika mereka terjadi pada saat yang sama
tapi di tempat yang berbeda.
Pedoman 9
Kegiatan kelompok yang tampaknya logis terkait, untuk
menghilangkan satu-aktivitas gelembung sedapat mungkin.
Pedoman 10
Untuk membuat DFD dibaca, gunakan antara lima dan tujuh
gelembung.
|
Gambar 3.5 Seperangkat DFD yang seimbang |
(Atau situasi masalah) dalam top-down secara, mengungkapkan
detil semakin lebih. Setelah mulai dekomposisi kami di atas dengan pemandangan
seluruh sistem (dan tujuan sistem), dan mengakui keterkaitan (yaitu, interface)
antara bagian sistem, kita dapat melanjutkan secara teratur untuk slove masalah
kita atau merancang sistem baru. menggunakan DFD dalam dua cara utama kita
dapat menarik mereka untuk mendokumentasikan sistem yang ada, atau kita dapat
membuat mereka dari awal ketika mengembangkan sistem baru. DFD (dan diagram
alur) akan memiliki penampilan yang lebih profesional jika Anda menggunakan
template flowcharting. Sebuah simbol (seperti kotak lingkaran dan persegi
panjang) telah dipotong.
Tabel entitas dan kegiatan
untuk membuat tabel entitas dan kegiatan. Dalam jangka
panjang, daftar ini akan mengarah pada persiapan lebih cepat dan lebih akurat
dari DFD dan flowchart sistem karena menjelaskan informasi yang terdapat dalam
narasi dan membantu kita untuk mendokumentasikan sistem dengan benar. jika
kita menerapkan pedoman 8 (yaitu, waktu yang sama tetapi tempat yang berbeda)
untuk pengelompokan sebelumnya, kita bisa menggabungkan kegiatan 8 dan 13, 14
dan 17, 16 dan 11, dan 9, 18 dan 19 solusi ini juga baik-baik saja dan
merupakan sedikit lebih baik daripada solusi pertama kami karena kami sekarang
memiliki lima gelembung dan kami hanya memiliki satu gelembung aktivitas
tunggal.
jika kita menerapkan pedoman 9 (yaitu, kegiatan logis
terkait), kita dapat menggabungkan kegiatan 1 3 4 althrought ini lulusan kita
dengan hanya empat gelembung solusi ini unggul dua yang pertama karena kita
tidak memiliki gelembung aktivitas tunggal.
Singkatnya, kelompok kami adalah
Kelompok 1: kegiatan 2,3,4
Kelompok 2: kegiatan 8,13,14,17
Kelompok 3: kegiatan 16,11
Kelompok 4: kegiatan 18,19,9
Untuk menggambar DFD logis, Anda harus mulai dengan cara
yang sama yang Anda mulai menggambar DFD fisik saat ini. menggambar entitas
eksternal dekat tepi selembar kertas. menggambar dan label mengalir ke dan dari
enties eksternal, sementara meninggalkan pusat halaman kosong untuk menerima
sisa diagram. karena ini adalah DFD logis, data yang mengalir ke dan dari
entitas harus memiliki deskripsi logis (misalnya, deskripsi digunakan pada
diagram konteks). bandingkan diagram Anda untuk solusi di figuare 3,9
menyelesaikan segala perbedaan diagram Anda akan terlihat seperti itu di
figuare 3,9 jika Anda menggunakan pengelompokan yang kita dijelaskan.
pengelompokan lain yang mungkin dalam pedoman. Setiap kelompok yang berbeda
harus mengarah pada DFD logis berbeda.
Ringkasan menggambar diagram alir data
dalam bagian ini, kami merangkum apa yang telah kita
pelajari tentang menggambar DFD, dan kami menyajikan petunjuk untuk membantu
Anda menggambar diagram ini akhirnya, kami memberikan beberapa pedoman baru
untuk menangani beberapa kasus khusus yang tidak muncul ketika kita menarik DFD
lintas.
pengambilan keputusan
Diposting oleh
daniel
on Selasa, 19 Februari 2013
/
Comments: (0)
pengambilan keputusan
PENGAMBILAN KEPUTUSAN
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 LATAR BELAKANG
Pengambilan keputusan dapat dianggap sebagai suatu hasil atau keluaran
dari proses mental atau kognitif yang membawa pada pemilihan suatu jalur
tindakan di antara beberapa alternatif yang tersedia. Setiap proses
pengambilan keputusan selalu menghasilkan satu pilihan final.
Keluarannya bisa berupa suatu tindakan (aksi) atau suatu opini terhadap
pilihan.
I.2 TUJUAN
1. Pencapaian tujuan organisasi secara lancar, mudah, dan efisien.
2. Pemecahan masalah atas kendala yang dihadapi organisasi(yang seringkali bersifat kontradktif).
BAB II
ISI
A. Dasar Pengambilan Keputusan
1. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Intuisi yaitu Pengambilan keputusan yang berdasarkan perasaan hati yang seringkali bersifat subyektif. Pengambilan keputusan yang berdasarkan intuisi membutuhkan waktu yang singkat, untuk masalah-masalah yang dampaknya terbatas, pada umumnya pengambilan keputusan yang bersifat intuitif akan memberikan kepuasan sepihak dan bersifat perasaan.
1. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Intuisi yaitu Pengambilan keputusan yang berdasarkan perasaan hati yang seringkali bersifat subyektif. Pengambilan keputusan yang berdasarkan intuisi membutuhkan waktu yang singkat, untuk masalah-masalah yang dampaknya terbatas, pada umumnya pengambilan keputusan yang bersifat intuitif akan memberikan kepuasan sepihak dan bersifat perasaan.
Sifat subjektif dari keputusuan intuitif ini memberikan keuntungan, yaitu :
a. Pengambilan keputusan oleh satu pihak sehingga mudah untuk memutuskan.
b. Keputusan intuitif lebih tepat untuk masalah-masalah yang bersifat kemanusiaan
a. Pengambilan keputusan oleh satu pihak sehingga mudah untuk memutuskan.
b. Keputusan intuitif lebih tepat untuk masalah-masalah yang bersifat kemanusiaan
2. Pengambilan Keputusan Rasional yaitu Pengambilan keputusan yang
dibuat berdasarkan pertimbangan rasional berfikir dan lebih bersifat
objektif. Keputusan yang bersifat rasional berkaitan dengan daya guna
pikir. Masalah–masalah yang dihadapi merupakan masalah yang memerlukan
pemecahan rasional. Keputusan yang dibuat berdasarkan pertimbangan
rasional lebih bersifat objektif dan dapat diukur.
3. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Pengalaman yaitu Pengambilan
keputusan yang berdasarkan pengalaman-pengalaman yang diperoleh sehingga
dapat digunakan untuk memperkirakan apa yang menjadi latar belakang
masalah dan bagaimana arah penyelesaiannya. Keputusan yang berdasarkan
pengalaman sangat bermanfaat bagi pengetahuan praktis di kemudian hari.
4. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Fakta yaitu Pengambilan keputusan
yang dibuat berdasarkan data empiris dan fakta nyata sehingga dapat
memberikan keputusan yang valid sehingga tingkat kepercayaan terhadap
pengambil keputusan dapat lebih tinggi. Istilah fakta perlu dikaitkan
dengan istilah data dan informasi. Kumpulan fakta yang telah
dikelompokkan secara sistematis dinamakan data. Sedangkan informasi
adalah hasil pengolahan dari data. Dengan demikinan, data harus diolah
lebih dulu menjadi informasi yang kemudian dijadikan dasar pengambilan
keputusan.
5. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Wewenang yaitu pengambilan keputusan yang berdasarkan atas wewenang/kedudukan yang dimiliki oleh seseorang yang menjadi pemimpin. Setiap orang yang menjadi pimpinan organisasi mempunyai tugas dan wewenang untuk mengambil keputusan dalam rangka menjalankan kegiatan demi tercapainya tujuan organisasi yang efektif dan efisien.
5. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Wewenang yaitu pengambilan keputusan yang berdasarkan atas wewenang/kedudukan yang dimiliki oleh seseorang yang menjadi pemimpin. Setiap orang yang menjadi pimpinan organisasi mempunyai tugas dan wewenang untuk mengambil keputusan dalam rangka menjalankan kegiatan demi tercapainya tujuan organisasi yang efektif dan efisien.
B. KEKUATAN DARI PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Kekuatan yang dibutuhkan dalam pembuatan keputusan individual dan kelompok
Kekuatan yang dibutuhkan dalam pembuatan keputusan individual dan kelompok
Sondang P. Siagian menyatakan bahwa ada tiga kekuatan yang selalu mempengaruhi suatu keputusan yang dibuat. Tiga kekuatan itu :
1. Dinamika individu di dalam organisasi. Sebuah organisasi merupakan sekumpulan dari beberapa individu. Individu-individu ini memiliki ide dan pemahaman yang sama dalam visi dan tujuan ke masa depan. Mereka membentuk organisasi dalam rangka mewujudkan visi dan tujuan masa depan yang menjadi impian dan cita-citanya. Pengaruh individu dalam organisasi sangat terasa hal ini terlihat pada pemimpinnya. Seorang pemimpin yang mempunyai kepribadian yang kuat, pendidikan yang tinggi, pengalaman yang banyak akan memberi kesan dan pengaruh yang besar terhadap bawahannya dalam rangka mewujudkan visi dan tujuan tersebut. Pemimpin yang baik akan selalu membimbing anggota organisasinya untuk membuat keputusan yang mengarah kepada kepentingan organisasi dan bukan pada kepentingan individu yang menunjukkan keinginan pribadi seorang.
1. Dinamika individu di dalam organisasi. Sebuah organisasi merupakan sekumpulan dari beberapa individu. Individu-individu ini memiliki ide dan pemahaman yang sama dalam visi dan tujuan ke masa depan. Mereka membentuk organisasi dalam rangka mewujudkan visi dan tujuan masa depan yang menjadi impian dan cita-citanya. Pengaruh individu dalam organisasi sangat terasa hal ini terlihat pada pemimpinnya. Seorang pemimpin yang mempunyai kepribadian yang kuat, pendidikan yang tinggi, pengalaman yang banyak akan memberi kesan dan pengaruh yang besar terhadap bawahannya dalam rangka mewujudkan visi dan tujuan tersebut. Pemimpin yang baik akan selalu membimbing anggota organisasinya untuk membuat keputusan yang mengarah kepada kepentingan organisasi dan bukan pada kepentingan individu yang menunjukkan keinginan pribadi seorang.
Faktor – faktor yang dapat mendukung dinamika individu dalam organisasi adalah sbb :
a. Rasa tanggung jawab yang baik secara individu maupun kolektif. Setiap anggota organisasi yang menyadari makna tanggung jawab individu dan kolektif sangat menguatkan keputusan yanng diambil dalam organisasi. Kekutatan keputusan ini dapat memperlancar dalam menjalankan rencana kerja dan meraih visi dan misi yang telah ditetapkan.
b. Apa yang sudah dipelajari individu dalam organisasi harus segera diaplikasikan dalam pekerjaan. Ilmu yang tidak diaplikasikan bagaikan kapas diterpa angin dan tidak ada bobot sama sekali. Ilmu yang baru saja dipelajari akan menunjukkan bobot dan nilai jika segera diaplikasikan. Nilai tersebut dapat dilihat dari rencana-proses-hasil ketika mengaplikasikan ilmu itu.
c. Menjalankan teknik akselerasi. Artinya sebisa mungkin mendukung kegiatan setiap individu agar proses berorganisasi terjadi dengan lebih cepat dan baik. Setiap individu anggota organisasi harus menyadari bahwa mereka satu sama lain saling berhubungan dan bekerja sama. Teknik akselerasi yang ada di dalam organisasi adalah kerjasama dan sikap saling mendukung satu sama lain. Teknik akselerasi ini harus selalu dikembangkan pada individu supaya saling mendukung dan membantu anggota organisasi ketika memiliki rencana dan program kerja. Atas dukungan yang diberikan maka rencana dan program kerja akan berhasil.
d. Rencana pengembangan personal artinya individu harus mengerti bahwa sebuah organisasi tidak dapat menjamin mereka tentang lapangan pekerjaan seumur hidup namun organisasi dapat membantu individu untuk mengembangkan karir mereka. Harus ada kerjasama antara organisasi dan individu untuk menciptakan pengembangan karir jangka panjang.
e. Tersedia kesempatan yang seluas – luasnya untuk mengembangkan karir. Karir anggota individu di dalam organisasi dapat berkembang dilihat dari kemampuan dirinya dalam membuat keputusan. Keputusan yang diambil selalu membawa muatan kepentingan organisasi. Dari kemampuan tersebut secara tidak langsung individu tersebut dapat memimpin realisasi program kerja maupun organisasi itu.
f. Pembelajaran individu harus dihubungkan kepada pembelajaran organisasi secara struktur dan lebih eksplisit agar sinergis. Pembelajaran individu dan pembelajaran organisasi harus sejalan supaya tidak ada konflik yang akhirnya menggangu perkembangan satu sama lain. Keselarasan pembelajaran individu dan organisasi dalam penerapannya selalu berpedoman pada visi dan misi organisasi maka keselaran ini secara langsung dapat membuat organisasi semakin kuat dan berkembang.
a. Rasa tanggung jawab yang baik secara individu maupun kolektif. Setiap anggota organisasi yang menyadari makna tanggung jawab individu dan kolektif sangat menguatkan keputusan yanng diambil dalam organisasi. Kekutatan keputusan ini dapat memperlancar dalam menjalankan rencana kerja dan meraih visi dan misi yang telah ditetapkan.
b. Apa yang sudah dipelajari individu dalam organisasi harus segera diaplikasikan dalam pekerjaan. Ilmu yang tidak diaplikasikan bagaikan kapas diterpa angin dan tidak ada bobot sama sekali. Ilmu yang baru saja dipelajari akan menunjukkan bobot dan nilai jika segera diaplikasikan. Nilai tersebut dapat dilihat dari rencana-proses-hasil ketika mengaplikasikan ilmu itu.
c. Menjalankan teknik akselerasi. Artinya sebisa mungkin mendukung kegiatan setiap individu agar proses berorganisasi terjadi dengan lebih cepat dan baik. Setiap individu anggota organisasi harus menyadari bahwa mereka satu sama lain saling berhubungan dan bekerja sama. Teknik akselerasi yang ada di dalam organisasi adalah kerjasama dan sikap saling mendukung satu sama lain. Teknik akselerasi ini harus selalu dikembangkan pada individu supaya saling mendukung dan membantu anggota organisasi ketika memiliki rencana dan program kerja. Atas dukungan yang diberikan maka rencana dan program kerja akan berhasil.
d. Rencana pengembangan personal artinya individu harus mengerti bahwa sebuah organisasi tidak dapat menjamin mereka tentang lapangan pekerjaan seumur hidup namun organisasi dapat membantu individu untuk mengembangkan karir mereka. Harus ada kerjasama antara organisasi dan individu untuk menciptakan pengembangan karir jangka panjang.
e. Tersedia kesempatan yang seluas – luasnya untuk mengembangkan karir. Karir anggota individu di dalam organisasi dapat berkembang dilihat dari kemampuan dirinya dalam membuat keputusan. Keputusan yang diambil selalu membawa muatan kepentingan organisasi. Dari kemampuan tersebut secara tidak langsung individu tersebut dapat memimpin realisasi program kerja maupun organisasi itu.
f. Pembelajaran individu harus dihubungkan kepada pembelajaran organisasi secara struktur dan lebih eksplisit agar sinergis. Pembelajaran individu dan pembelajaran organisasi harus sejalan supaya tidak ada konflik yang akhirnya menggangu perkembangan satu sama lain. Keselarasan pembelajaran individu dan organisasi dalam penerapannya selalu berpedoman pada visi dan misi organisasi maka keselaran ini secara langsung dapat membuat organisasi semakin kuat dan berkembang.
2. Dinamika kelompok orang-orang di dalam organisasi. Dinamika kelompok
berasal dari kata dinamika dan kelompok. Dinamika berati interaksi atau
interdependensi antara kelompok satu dengan yang lain, sedangkan kata
Kelompok adalah kumpulan individu yang saling berinteraksi dan mempunyai
tujuan bersama. Dinamika kelompok adalah suatu kelompok yang terdiri
dari dua atau lebih individu yang memiliki hubungan psikologis secara
jelas antara anggota satu dengan yang lain dan berlangsung dalam situasi
yang dialami. Dinamika kelompok mempunyai pengaruh besar dalam rangka
mengembangkan dan membuat rencana organisasi berhasil. Untuk mewujudkan
ini maka pemimpin organisasi hendaknya mengusahakan agar kelompok di
dalam organisasi dapat lebih cepat berkembang menjadi dewasa. Berkembang
dan mengarahnya kelompok organisasi ke arah semakin dewasa memberikan
keuntungan bagi organiasi dalam rangka menerapkan rencana kerja dan
mewujudkan visi dan misi.
Fungsi dari dinamika kelompok itu antara lain:
a. Membentuk kerjasama saling menguntungkan dalam mengatasi persoalan hidup. Kelompok-kelompok organisasi yang dapat bekerjasama dan saling membantu dalam menjalankan rencana kerja maka akan mempermudah dalam mengatasi persoalan organisasi. Persoalan yang seharusnya dipecahkan dan ditanggung oleh satu atau sebagian kelompok akan menjadi mudah pemecahan dan penyelesaiannya ketika semua kelompok terlibat bekerjasama saling membantu. Kerjasama ini harus selalu ditanamkan dan dikembangkan di dalam organisasi tersebut agar kedewasaan kelompok semakin matang..
b. Memudahkan pekerjaan. Dinamika kelompok yang dapat berjalan dengan baik di mana masing-masing kelompok dapat memberikan informasi dan kontribusi positif bagi kelompok yang lain maka secara langsung pekerjaan dapat berjalan lancar dan selesai tepat waktu. Informasi dan kontribusi yang diberikan oleh satu kelompok merupakan bahan atau sumber modal kerja bagi kelompok yang lainnya. Ketidakatifan salah satu kelompok dalam sebuah organisasi dapat membuat organisasi tersebut berhenti berkerja dikarena informasi maupun kelompok kerja tidak bisa diandalkan. Kerjasama kelompok yang baik dan konsisten dengan rencana kerja dapat meningkatkan kinerja organisasi. Kinerja yang harmonis dalam organisasi bukan saja hanya akumulasi keahlian dan pengetahuan individu dalam kelompok tetapi hasil dari keseluruhan keahlian anggota kelompok yang bekerja sebagai satu kesatuan yang tidak terpisah dalam rangka meningkatkan kinerja organisasi.
c. Mengatasi pekerjaan yang membutuhkan pemecahan masalah dan mengurangi beban pekerjaan yang terlalu besar sehingga selesai lebih cepat, efektif dan efisien. Kelompok-kelompok kecil yang dibentuk di dalam organisasi memiliki tujuan untuk memperlancar kerja organisasi. Salah satu tujuan adanya kelompok kecil adah pembagian pekerjaan sesuai bagian kelompoknya masing-masing atau sesuai keahlian. Keuntungan dengan pembagian pekerjaan adalah : pekerjaan dan masalah tidak harus selalu diselesaikan di pusat, informasi mudah diperoleh karena setiap kelompok memiliki kontribusi sesuai dengan pembagian pekerjaan, keputusan dapat diambil cepat dan akurat, dan beban pekerjaan dapat dibagi sesuai berat ringannya sebuah kekerjaan.
d. Menciptakan iklim demokratis dalam kehidupan berorganisasi dengan memungkinkan setiap individu memberikan masukan, interaksi, dan memiliki peran yang sama dalam organisasi. Dinamika kelompok secara tidak langsung membangun sistem demokrasi yang baik di dalam sebuah organisasi melalui kelompok kecil ketika merumuskan rencana kerja dan memecahkan masalah ketika ada persoalan. Kemufakatan demokrasi lebih mudah dibuat di dalam kelompok kecil dari pada lingkup organisasi yang besar. Hal ini bisa terjadi karena tiap anggota kelompok kecil mudah untuk disatukan visi, misi, tujuan, pemecahan masalah.
a. Membentuk kerjasama saling menguntungkan dalam mengatasi persoalan hidup. Kelompok-kelompok organisasi yang dapat bekerjasama dan saling membantu dalam menjalankan rencana kerja maka akan mempermudah dalam mengatasi persoalan organisasi. Persoalan yang seharusnya dipecahkan dan ditanggung oleh satu atau sebagian kelompok akan menjadi mudah pemecahan dan penyelesaiannya ketika semua kelompok terlibat bekerjasama saling membantu. Kerjasama ini harus selalu ditanamkan dan dikembangkan di dalam organisasi tersebut agar kedewasaan kelompok semakin matang..
b. Memudahkan pekerjaan. Dinamika kelompok yang dapat berjalan dengan baik di mana masing-masing kelompok dapat memberikan informasi dan kontribusi positif bagi kelompok yang lain maka secara langsung pekerjaan dapat berjalan lancar dan selesai tepat waktu. Informasi dan kontribusi yang diberikan oleh satu kelompok merupakan bahan atau sumber modal kerja bagi kelompok yang lainnya. Ketidakatifan salah satu kelompok dalam sebuah organisasi dapat membuat organisasi tersebut berhenti berkerja dikarena informasi maupun kelompok kerja tidak bisa diandalkan. Kerjasama kelompok yang baik dan konsisten dengan rencana kerja dapat meningkatkan kinerja organisasi. Kinerja yang harmonis dalam organisasi bukan saja hanya akumulasi keahlian dan pengetahuan individu dalam kelompok tetapi hasil dari keseluruhan keahlian anggota kelompok yang bekerja sebagai satu kesatuan yang tidak terpisah dalam rangka meningkatkan kinerja organisasi.
c. Mengatasi pekerjaan yang membutuhkan pemecahan masalah dan mengurangi beban pekerjaan yang terlalu besar sehingga selesai lebih cepat, efektif dan efisien. Kelompok-kelompok kecil yang dibentuk di dalam organisasi memiliki tujuan untuk memperlancar kerja organisasi. Salah satu tujuan adanya kelompok kecil adah pembagian pekerjaan sesuai bagian kelompoknya masing-masing atau sesuai keahlian. Keuntungan dengan pembagian pekerjaan adalah : pekerjaan dan masalah tidak harus selalu diselesaikan di pusat, informasi mudah diperoleh karena setiap kelompok memiliki kontribusi sesuai dengan pembagian pekerjaan, keputusan dapat diambil cepat dan akurat, dan beban pekerjaan dapat dibagi sesuai berat ringannya sebuah kekerjaan.
d. Menciptakan iklim demokratis dalam kehidupan berorganisasi dengan memungkinkan setiap individu memberikan masukan, interaksi, dan memiliki peran yang sama dalam organisasi. Dinamika kelompok secara tidak langsung membangun sistem demokrasi yang baik di dalam sebuah organisasi melalui kelompok kecil ketika merumuskan rencana kerja dan memecahkan masalah ketika ada persoalan. Kemufakatan demokrasi lebih mudah dibuat di dalam kelompok kecil dari pada lingkup organisasi yang besar. Hal ini bisa terjadi karena tiap anggota kelompok kecil mudah untuk disatukan visi, misi, tujuan, pemecahan masalah.
3. Dinamika lingkungan organisasi. Pengaruh lingkungan juga memegang
peranan yang cukup penting untuk diperhatikan. Antara organisasi dan
lingkungan itu saling mempengaruhi. Dinamika lingkungan organisasi
tersebut dapat dilihat dibawah ini.
a. Dinamika lingkungan organisasi internal, dinamika internal yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan adalah: Adanya visi, misi, paradigma dan filosofi baru di dalam organisasi, Perubahan strategi organisasi yang baru, Dilakukannya redefinisi tentang core bussinis, Dilakukannya restrukturisasi dan reengineering organisasi, Kondisi sumber daya manusia dalam organisasi, Perubahan budaya organisasi dan kegiatan utama organisasi.
b. Dinamika lingkungan organisasi eksternal, dinamika eksternal yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan meliputi 4 unsur yaitu kondisi skala lokal, nasional, regional dan Internasional. Dari keempat unsur tersebut dapat dirangkum hal-hal yang memberi pengaruh pada pengambilan keputusan seperti : Situasi politik, nilai-nilai sosial, etika dan budaya di masyarakat, Perubahan kondisi pasar dan konsumen, Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Adanya peraturan dan undang-undang baru dari pemerintah.
a. Dinamika lingkungan organisasi internal, dinamika internal yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan adalah: Adanya visi, misi, paradigma dan filosofi baru di dalam organisasi, Perubahan strategi organisasi yang baru, Dilakukannya redefinisi tentang core bussinis, Dilakukannya restrukturisasi dan reengineering organisasi, Kondisi sumber daya manusia dalam organisasi, Perubahan budaya organisasi dan kegiatan utama organisasi.
b. Dinamika lingkungan organisasi eksternal, dinamika eksternal yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan meliputi 4 unsur yaitu kondisi skala lokal, nasional, regional dan Internasional. Dari keempat unsur tersebut dapat dirangkum hal-hal yang memberi pengaruh pada pengambilan keputusan seperti : Situasi politik, nilai-nilai sosial, etika dan budaya di masyarakat, Perubahan kondisi pasar dan konsumen, Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Adanya peraturan dan undang-undang baru dari pemerintah.
BAB III
PENUTUP
III.1 KESIMPULAN
Dalam
kehidupan sehari-hari manusia selalu terlibat dalam berbagai persoalan
dan mengambil keputusan dari berbagai macam persoalan. Bagi para manajer
pengambil keputusan dan pemecahan persoalan maupun tugas yang penting
dalam karirnya. Berhubungan dengan itu tidak heran bila kebanyakan
manajer aktif dalam mencari cara untuk menambah kemampuan dan keahlian
yang efektif dalam penampilan dalam bidang usahanya. Kebanyakan usaha
dari pada perbaikan penambahan diri sendiri itu. Berhubungan langsung
dengan memperbaiki cara pengambilan keputusan dan kempuan pengambilan
keputusan.
III.2 SARAN
Pengambilan
keputusan harus diambil berdasarkan fakta – fakta yang telah
dikumpulkan, dan harus brdasarkan keputusan bersama agar mencapai tujuan
yang benar.
DAFTAR PUSTAKA
http://eprints.undip.ac.id/.../Pengambilan_Keputusan_-_AYUN_S...
http://edukasi.kompasiana.com
http://id.wikipedia.org/wiki/Dinamika_kelompok
http://indosdm.com
http://pembuatan-keputusan.blogspot.com
http://tpers.net
http://id.shvoong.com/business-management/management/2167272-pengambilan-keputusan/#ixzz2JMKV2iA3
http://id.wikipedia.org/wiki/Dinamika_kelompok
http://indosdm.com
http://pembuatan-keputusan.blogspot.com
http://tpers.net
sistem pengendalian intern
Diposting oleh
daniel
/
Comments: (1)
SISTEM PENGENDALIAN INTERN
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 LATAR BELAKANG
Pengendalian internal adalah rencana, metoda, prosedur, dan kebijakan
yang didesain oleh manajemen untuk memberi jaminan yang memadai atas
tercapainya efisiensi dan efektivitas operasional, kehandalan pelaporan
keuangan, pengamanan terhadap aset, ketaatan/kepatuhan terhadap
undang-undang, kebijakan dan peraturan lain.
I.2 TUJUAN
1. Tujuan suatu instansi yang ditetapkan akan dapat dicapai.
2. Laporan keuangan yang dihasilkan dapat dipercaya.
3. Kegiatan sejalan dengan hukum dan peraturan yang berlaku.
2. Laporan keuangan yang dihasilkan dapat dipercaya.
3. Kegiatan sejalan dengan hukum dan peraturan yang berlaku.
BAB II
ISI
Implementasi
sistem pengendalian intern (SPI) bukan hanya dalam bentuk pengawasan.
Melainkan gabungan berbagai elemen yang berbeda. Agar sistem
pengendalian intern bisa berfungsi dengan efektif, minimal terdiri dari
empat elemen utama yang berjalan sinergis—saling melengkapi dan saling
mendukung. Berfungsi efektif yang saya maksudkan adalah mampu
meminimalisir potensi penggelapan, pencurian dan bentuk penyelewengan
lainnya hingga ke titik terendah.
Untuk bisa efektif, pengendalian intern minimal harus mengandung empat elemen terpenting di bawah ini:
Prosedur Dan Kebijakan Yang Mengikat Dan Jelas
Ini
fundamental sifatnya. Tidak boleh tidak, harus ada. Tanpa prosedur dan
kebijakan yang jelas, pegawai tidak akan tahu mana yang boleh dan mana
yang tidak boleh dilakukan. Prosedur harus mengikat, dalam artian setiap
perilaku yang tidak sesui dengan prosedur akan diganjar hukuman.
Prosedur haru jelas, tidak multi tafsir, tidak memiliki celah untuk
memungkinkan terjadinya pelanggaran.
Misalnya: Untuk menerima barang dari pemasok/vendor, bagian receiving harus:
- Membandingkan “Surat Jalan” vs. “Purchase Order” vs “Physical Check”, untuk memastikan barang yang diterima sudah sesuai pesanan, dan surat jalan sudah sesuai kenyataan.
- Bila ada perbedaan, maka petugas receiving harus menghubungi bagian pembelian untuk kemudian diteruskan ke vendor. Vendor harus mengirimkan barang yang sesuai dengan PO selambat-lambatnya dalam waktu 24 jam. Bila tidak pesanan dibatalkan.
- Apakah harus persis sama atau ada toleransi? Apakah ada pengecualian? Kalau ada pengecualian atas apa dan siapa yang berwenang memberikan approval untuk menerima perbedaan itu?
- Bila ketiganya sudah sama, maka petugas receiving harus memasukan data penerimaan, mencetak receiving slip, di staple jadi satu, untuk kemudian dikirimkan ke bagian accounting
- dan seterusnya.
Bila
ada perbedaan antara ketiga dokumen itu tetapi petugas receiving tidak
menghubungi bagian pembelian, atau bagian pembelian tidak
menindaklanjuti, atau menerima perbedaan tanpa approval dari pejabat
yang berwenang, maka siapapun yang melanggar harus mendapat hukuman.
Tanpa itu, prosedur akan cenderung dilanggar. Semua itu dituangkan di
dalam sebuah prosedur dan kebijakan. Dan semua aktvitas (di semua
wilayah operasional persahaan), harus memilik prosedur dan kebijakan
yang mengikat, dan jelas.
Bayangkan
kalau tidak ada prosedur, bukan saja membuat potensi
penggelapan/pencurian/penyelewengan menjadi tinggi, tetapi juga membuat
banyak waktu habis ditengah jalan hanya untuk bolak-balik menjalankan
satu proses aktivitas, karena pegawai tidak tahu pasti harus berbuat
apa.
Piranti (Peralatan) Yang Memadai
Piranti
di sini bisa jadi berupa komputer, device tertentu (misalnya mesin
finger print untuk absensi, atau scanner barcode untuk penerimaan barang
dan pencatatan persediaan yang akurat, body-scanner untuk memeriksa
orang yang keluar masuk dari lokasi perusahaan, camera CCTV, brankas
dengan locker digital dan manual, alat penimbang, stempel digital yang
dilengkapi dengan alat anti duplikasi, dll).
Peranan piranti sangat besar. Piranti dimaksudkan untuk 2 tujuan utama berikut ini:
- Memastikan prosedur dan kebijakan berjalan dengan mulus tanpa hambatan.
- Menutup celah peluang terjadinya penggelapan/pencurian/penyelewengan.
Tentu
tidak semua wilayah/bagian, tidak semua alur, tidak semua proses harus
dilengkapi dengan piranti khusus, tetapi 5 wilayah paling rawan yang
sudah saya sampaikan di tulisan sebelumnya (baca lagi) harus.
Pengawasan Terus-Menerus
Dari
pengamatan selama ini, saya lihat hampir semua perusahaan sudah
melakukan pengawasan. Hanya saja, masih dilakukan secara parsial,
cenderung berfokus di beberapa wilayah saja, misalnya: Pengawasan Kas
atau Barang Persediaan. Padahal potensi penggelapan, pencurian dan
penyelewengan bisa teradi dimana saja. Hal yang jarang disadari,
seringkali kebocoran di suatu wilayah sumber celahnya justru berada di
wilayah lainnya. Sehingga akar masalah menjadi tidak pernah tersentuh.
Misalnya:
Perusahaan
hanya fokus mengawasi bagian kas dan utang. Saat ditelusuri jelas semua
pencatatan telah dilakukan dengan benar, bukti pendukung lengkap. Angka
utang dengan kas keluar sudah sama, catatan utang dengan bukti
pendukung (PO, tanda terima dan nota tagihan) juga sama. Apakah itu
berarti sudah tidak mungkin terjadi lebih bayar ke vendor? Di atas
kertas kelihatannya iya. Kenyataannya? Mungkinkah nota penerimaan barang
(receiving slip) tidak sesuai dengan kenyataan barang yang diterima?
Sudahkan orang penerimaan melakukan pemeriksaan fisik?
Oleh sebab itu, pengawasan harus bersifat menyeluruh. Tidak parsial.
Seperti
telah saya bahas di tulisan saya sebelumnya bahwa, mustahil pengelola
usaha mampu melakukan pengawasan terus menerus. Perlu cara tertentu
untuk membuat agar pengawasan bisa berjalan dengan sendirinya. Caranya?
Saya akan bahasa ditulisan saya berikutnya, pada saat saya membahas
pengendalian intern pada masing-masing wilayah dengan kustomisasi.
Evaluasi Berkala
Elemen
yang tak kalah pentingnya adalah evaluasi berkala. Tujuannya adalah
untuk mengetahui apakah sistem pengendalian yang diimplementasikan sudah
berjalan efektif atau belum. Evaluasi dilakukan dengan melakukan
infeksi dan audit di semua wilayah tentunya. Lalu bandingkan dengan
hasil inspeksi/audit sebelumnya. Apakah tingkat
kebocoran/kehilangan/penggelapan menurun atau tidak? Jika tidak, dimana
kelemahannya. Apakah prosedur dan kebijakan perlu diubah? Apakah piranti
perlu ditambah/dimoderenisasi?
Mengenai
waktu pelaksanaan evaluasi, idealnya setiap akhir jam kerja, ata setiap
menjelang akhir pekan. Hanya saja, proses evaluasi lumayan memakan
waktu dan tenaga. Tentunya persahaan bisa melakukannya sesuai dengan
tingkat urgensi. Misalnya: saat frekwensi kejadian cukup tinggi, mungkin
evalasi perlu dilakukan setiap hari/minggu. Tetapi saat frekwensinya
rendah, makan evaluasi bisa dilakukan setiap bulan.
Jika
empat elemen terpenting ini sudah ada pada sistem pengendalian intern
perusahaan, masing-masing elemen sudah dirancang sedemikian rupa (sesuai
dengan kondisi, alur proses opersional perusahaan) dan bisa berjalan
efektif, saya yakin masalah penggelapan, pencurian maupun penyelewengan
bisa diminimalisir hingga ke titik terendah. Tentu. Berbicara selalu
lebih mudah dibandingkan melaksanakan. Untuk itu, tidak ada cara lain
selain melaksanakannya. Segala sesuatu berawal dari ide, pemikiran, dan
kata-kata. Menjadi ada karena ide, pikiran dan kata-kata tersebut
diwujudkan dalam tindakan.
BAB III
PENUTUP
III.1 KESIMPULAN
Pengendalian
intern bukan hanya terdiri dari pedoman, kebijakan, formulir, namun
dijalankan oleh orang dari setiap jenjang organisasi, yang mencakup
dewan komisaris, manajemen dan personil lain. Pengendalian intern juga
ditujukan untuk mencapai tujuan yang saling berkaitan yaitu pelaporan
keuangan, kepatuhan dan operasi.
III.2 SARAN
Pengendalian
intern diharapkan mampu memberikan keyakinan memadai, bukan keyakinan
mutlak bagi manajemen dan dewan komisaris entitas. Keterbatasan yang
melekat dalam semua sistem pengendalian intern dan pertimbangan manfaat
serta pengorbanan dalam pencapaian tujuan pengendalian, menyebabkan
pengendalian intern tidak dapat memberikan keyakinan mutlak.
DAFTAR PUSTAKA
Agoes,Soekrisno , 2004, AUDITING, Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.








